Jepang dan Malaysia Perkuat Kerja Sama Hidrogen
Jepang dan Malaysia telah sepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang hidrogen. Kesepakatan ini muncul setelah pertemuan antara Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Yasutoshi Nishimura, dan Menteri Ekonomi Malaysia, Rafizi Ramli. Kedua negara mengakui pentingnya hidrogen sebagai sumber energi bersih di masa depan dan berkomitmen untuk berkolaborasi dalam pengembangan dan penerapan teknologi hidrogen.
Malaysia, yang merupakan produsen dan pengekspor bahan bakar fosil utama, sedang mencari cara untuk mendiversifikasi ekonominya dan bertransisi ke energi yang lebih bersih. Hidrogen dipandang sebagai kunci untuk mencapai tujuan ini. Negara ini memiliki potensi besar untuk memproduksi hidrogen, baik dari sumber daya alam maupun melalui elektrolisis.
Jepang, yang memiliki target ambisius untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050, memandang hidrogen sebagai komponen penting dalam strategi dekarbonisasinya. Negara ini telah berinvestasi besar-besaran dalam penelitian dan pengembangan teknologi hidrogen dan secara aktif mencari mitra internasional untuk membangun rantai pasokan hidrogen global.
Kerja sama yang diperkuat antara Jepang dan Malaysia ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan dan penerapan teknologi hidrogen di kedua negara. Ini juga dapat membantu menciptakan peluang ekonomi baru dan berkontribusi pada upaya global untuk mengatasi perubahan iklim.
Diskusi mencakup berbagai aspek rantai pasokan hidrogen, termasuk produksi, transportasi, penyimpanan, dan pemanfaatan. Kedua negara sepakat untuk mengeksplorasi potensi kolaborasi dalam proyek-proyek spesifik, seperti pengembangan infrastruktur hidrogen dan demonstrasi teknologi hidrogen.
Artikel
amonia, bahan bakar penerbangan berkelanjutan, dekarbonisasi, ekspor hidrogen, energi terbarukan, Hidrogen, impor hidrogen, Jepang, kerja sama energi, kerja sama hidrogen, Malaysia, perdagangan hidrogen, SAF, strategi hidrogen